Tactical Innovation

Inspirasi Budaya Demokrasi AS untuk Indonesia

November 6, 2008
Leave a Comment

Belum keluar hasil resmi pemilihan presiden AS, namun Mc Cain dengan bijaksananya, berani memberikan ucapan selamat kepada Obama di depan ribuan pendukungnya sendiri. Lebih dahsyatnya lagi, Mc Cain juga mengajak seluruh pendukungnya untuk turut mendukung Barrack Obama sebagai presiden Amerika Serikat.

Sebuah hal menarik yang mampu disajikan dalam pesta demokrasi lima tahunan di AS, dimana pihak yang kalah, mampu berjiwa besar walaupun hasil resminya belum menetapkan kekalahannya. Sehingga, dalam konteks ini pidato Obama yang mengatakan bahwa “yang masih bertanya tentang kekuatan demokrasi kita, malam ini adalah jawabannya” (Sindo,6/10), mendapatkan konteksnya yang tepat.

Sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh McCain dengan mengucapkan selamat kemenangan kepada Obama secara langsung di depan pendukungnya itu, jika ditarik lebih jauh, sudah merupakan tradisi dalam setiap pemilu di AS, baik itu pemilu eksekutif maupun pemilu legislative. Bahkan dalam setiap pemilihan di level distrik pun, tradisi ini kerap dijalankan. Sebagaimana yang pernah dilakukan pula oleh Judy Baar Topinka kepada Rod Blagojevich atas kemenangannya dalam pemilihan gubernur Negara bagian Illionis. Di sisi lain Rod Blagojevich yang memenangi pemiliha gubernur Negara bagian Illinois dari Partai Demokrat pun melakukan hal yang serupa “One thing I want to tell you about Judy Baar-Topinka, she loves our State, she loves Illinois. She would do anything to make the State of Illinois a better place to live. Judy Baar Topinka, thank you for being such a great competitor”.

Sikap yang seperti ini telah melalui ruang tradisi politik yang sangat panjang dalam sejarah politik Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, sikap seperti ini telah menjadi karakter khas budaya politik Amerika Serikat yang secara tidak langsung wajib dilakukan oleh setiap kandidat yang bertarung. Walaupun saling keras dalam bertarung di masa masa kampanye, namun jiwa besar wajib diketengahkan dalam melihat hasil yang ada, sebab dengan demikian kepentingan Negara yang jauh lebih penting tidak akan pernah terabaikan.

Inspirasi Bagi Indonesia

Dengan tingginya tingkat penyelenggaraan election di Indonesia, sikap saling memberikan ucapan selamat ini dapat menjadi factor yang mampu mentralkan kondisi yang sebelumnya syarat kompetisi. Sehingga, konflik yang sering terjadi di daerah daerah pasca penyelenggaraan Pilkada, mampu tereleminasi.

Pada sisi yang lain, dengan adanya sikap tersebut, hal itu akan mampu memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat luas, bahwa untuk berpartsipasi dalam pembangunan, tidak hanya bisa dilakukan oleh pihak yang menang, namun juga bisa dilakukan oleh pihak yang kalah sekalipun. Sehingga, pesan bahwa politik adalah untuk kesejahteraan masyarakat bisa tersampaikan secara jelas kepada public. Dan ini sangat penting dalam membangun budaya politik yang sehat dan bermartabat di Indonesia. Sebab, demokrasi tidak akan pernah tegak secara sempurna tanpa adanya etika yang sehat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Almond dan Verba, bahwa budaya politik bangsa adalah bukan hanya perwujudan sikap individu terhadap system politik dan komponen komponennya, namun juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam system politik.

Mungkin adalah hal yang tidak mudah untuk melakukan hal ini bagi setiap kandidat yang bertarung, sebab sikap yang seperti ini memang menuntut jiwa besar dan pengorbanan yang luar biasa dari setiap politisi negeri ini. Namun disisi lain, efek yang akan muncul terhadap karakter dan budaya politik bangsa akan luar biasa, jika sikap ini mampu diwujudkan secara kolektif oleh setiap politisi di negeri ini. Dengan demikian rakyat akan melihat bahwa para politisi yang bertarung di area pemilu ataupun pilkada, benar benar memiliki niatan tulus untuk membangun masyarakat. Sebab, baik pihak yang menang maupun yang kalah, tetap bisamengabdikan dirinya untuk membangun masyarakat.

Kiranya walaupun sederhana, alangkah indah jika pengalaman kecil ini bisa terwujud dalam setiap prosesi election di Indonesia. Baik itu di level pusat ataupun daerah, maupun dalam pemilihan legislative ataupun ekesekutif. Bahkan, bisa jadi langkah ini akan semakin efektif jika secara sistematik hal ini pun juga di atur dalam regulasi yang formal.

Sehingga, budaya lama kebanyakan manusia Indonesia yang oleh Muchtar Lubis disebut sebagai manusia Hypocrit, yang hanya menjadikan politik sebagai sarana memperkaya dirinya dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, mampu tereduksi secara bertahap dalam budaya politik Indonesia. Dan pemilihan presiden Indonesia tahun depan, adalah waktu yang tepat untuk menggaungkan budaya politik yang relative baru di Indonesia ini.


Posted in Analyze
« Previous PageNext Page »