“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia……”

Demonstrasi APBN 2008
“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia……”Orasi Senjata Demonstrasi

Kalimat atau ungkapan tersebut pasti sering terucap dan kita dengar dalam setiap aktivitas demonstrasi yang diusung oleh mahasiswa. Terutama bagi para orator, ungkapan tersebut selalu menjadi penghentak semangat untuk membangkitkan gelora perjuangan. Bagi para demonstran, ungkapan tersebutlah yang paling mudah diberikan respond. Sehingga, gayung bersambut antara orator dan demonstran terjalin dengan ungkapan “Hidup Mahasiswa Hidup Rakyat Indonesia”.

Akan tetapi tak jarang juga kita merasakan gelora semangat yang diharapkan hadir dengan ungkapan tersebut perlahan-lahan memudar. Bahkan dalam kondisi tertentu, ungkapan tersebut bukan lagi menjadi penyemangat bagi demonstran, namun sebaliknya, ia menjadi bumerang untuk meruntuhkan semangat yang ada. Bukan gelora yang hadir, melainkan kebosanan.

Untuk hal ini, saya yakin ada banyak hal yang melingkupi kenapa hal tersebut bisa sampai terjadi, namun di sini saya akan sedikit menyoroti akan satu faktor yang menurut saya cukup penting, yakni faktor dari sang orator. Orator adalah orang yang bertugas untuk berorasi, memberikan pencerahan, membangun kesadaran objective, mengundang kesadaran subjektiv dan membangkitkan potensi yang terpendam menjadi sebuah himpunan kekuatan yang padu sebagai senjata pergerakan. Namun sayangnya fungsi dan peran tersebut terkadang tidak bisa dimainkan oleh para orator. Sehingga, potensi massa yang sudah terkumpul terkadang hanya menjadi sebuah kerumunan massa yang tak memiliki arti. Kenapa sebab bisa seperti itu? Jawabannya : sebab sang orator kurang bisa memahami makna orasi sebagai senjata Demonstrasi.

Orasi adalah senjata Demonstrasi. Dari orasi lah, muatan agenda perjuangan bisa tersampaikan. Orasi adalah senjata Demonstrasi. Dari orasi lah, tuntutan kolektif yang berasal dari ribuan massa yang ada terwakilkan melalui corong sang orator. Sehingga, disinilah letak signifikansi dari sebuah orasi sebagai senjata Demonstrasi yang menjadikan orator sebagai kunci (key) dari bangkit atau tidaknya semangat demonstran.

Fenomena yang sering terjadi adalah, terkadang banyak orator yang kehabisan kata , gagap dalam menyapa dan terhenti dalam berorasi. Padahal kata adalah senjatanya orasi dan orasi adalah senjatanya demonstrasi. Sehingga, tak ayal banyak demonstran yang merasa jenuh, kesal, bahkan bosan dalam aktivitas demonstrasinya, sebab sang orator hanya berucap “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia”……baru satu kalimat dilontarkan, ungkapan tersebut kembali diucapkan…..Kembali diucapkan hingga berulang-ulang.

Akan hal ini, alangkah lebih bijak bagi para sang orator untuk memperhatikan fase persiapan sebelum tampil berorasi. Sebab, orator memegang peranan yang sangat signifikan untuk membangkitkan gelora dan spirit perjuangan. Pertama, bekali diri dengan keyakinan penuh akan isu yang diperjuangkan. Bangun keyakinan bahwa isu tersebut sungguh-sunguh bagian dari kebenaran yang pantas diperjuangkan dan dibela oleh banyak orang. Tanpa hal ini, maka sang orator hanyalah layaknya reporter dari sebuah radio cilik anak-anak. Bagaimana bisa membangkitkan keyakinan, kalau dirinya sendiri tak yakin. Kedua, bekali dengan informasi yang akurat dan terpercaya, bahkan hafalkan data-data penting yang itu tidak terekspos di media, sebab salah satu keinginan dari demonstran adalah mengetahui informasi yang tersembunyi yang tidak terungkap di publik akan isu yang diperjuangkannya. Persiapan akan hal ini juga tak kalah pentingnya dengan point pertama. Sebab orator adalah orang yang dianggap memiliki informasi lebih yang bisa dishare kepada demonstran yang lain. Jika informasi ataupun data dari orator sama seperti apa yang diketahui oleh khalayak, maka tak ada yang terkesan istimewa dari muatan yang disampaikan sang orator. Hal ketiga yang perlu dipersiapkan yang tentunya ini merupakan basic skill dari sang orator adalah kekayaan dia akan kosakata menarik yang bisa dipergunakan ketika berorasi. Berkomunikasi melalui orasi bisa dipandang sebagai seni dalam berkata. Sehingga, tata kata yang baik dan teratur yang terucap dari lisan sang orator akan memunculkan daya tarik tersendiri dan mengundang perhatian banyak orang, dimana bukan hanya bisa mengguncang semangat para demonstran, namun juga menghentak pihak yang dituntutnya. Dan point terakhir yang tentunya harus dipersiapkan adalah kekuatan spiritual yang menjadi fondasi dari itu semua. Tentunya, sang orator harus menyadari bahwa dirinya adalah orang yang selain bertugas membangkitkan semangat demonstran, juga adalah pihak yang menjadi pusat perhatian dan ancaman. Ini penting untuk diperhatikan. Resiko yang ditanggung oleh sang orator dalam hal ini termasuk resiko yang relatif besar jika dibanding dengan yang lain, sehingga dia harus pandai-pandai menjaga hati dan niatnya agar terus berada dalam koridor yang lurus. Sehingga, sekalipun resiko terburuk menimpanya, hal itu seimbang dengan niat lurus yang dijaganya, dan niat lurusnya itu akan menjadi energi luhur yang akan terus menyala, dan tentunya ia akan mendapatkan reward yang besar di mata Allah SWT.

Ya, sekali lagi, alangkah lebih bijak jika para orator bisa mempersiapkan itu semua sebelum maju ke medan pertempuran, karena beban tugasnya cukup besar, begitupun dengan resikonya. Sebab, Ia memimpin tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang banyak. Ia berbicara bukan atas namanya pribadi, namun atas nama nyawa dan aspirasi rekan-rekanya yang lain. Sehingga, tanggung jawab dari seorang orator untuk bisa tampil dengan baik di atas podium bukanlah perkara yang sepele. Ini merupakan tanggung jawab yang besar dan luhur dengan resiko yang besar dan luhur pula.

Tentunya, untuk mencapai hal itu bukanlah sesuatu yang instan, namun membutuhkan latihan. Sehingga jangan sampai terjadi lagi, ungkapan “Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia” tereduksi maknanya, lantaran sang orator tak bisa memahami arti dari sebuah orasi sebagai senjata Demonstrasi.

7 Responses to ““Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia……””

  1. yustisia Says:

    salam bung dika….

  2. d1ika Says:

    Waalaykumsalam Bung Tyan…si Nyala Api

  3. anez Says:

    assalamu’alaikum bang diKa…

    I just waNna say…

    HIDUP MAHASISWA HIDUP RAKYAT INDONESIA…!!!!!!

  4. d1ika Says:

    Waalaykumsalam Wr.Wb Anez..
    Keep Spirit terus ya….

  5. ianto Says:

    teruskan perjuangan..bang
    semoga terus lahir orator yang baru..

  6. ichetich Says:

    Numpang lewat bang…

  7. yasir Says:

    assalamualaikum

    bangkitlah negeriku. harapan itu masih ada.

    salam sukses

Leave a Reply